Laman

Selasa, 30 September 2014

METODE PEMBELAJARAN PEER TEACHING


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah
Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam mencetak dan membangun generasi berkualitas. Penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas merupakan investasi jangka panjang, Namun untuk dapat mencapai tujuan dari pendidikan tersebut bukanlah hal yang mudah, Perlu adanya berbagai faktor yang dapat mendukung ketercapaian tujuan pendidikan nasional.
Salah satu faktor yang berperan sangat penting adalah guru. Guru sebagai agen perubahan harus mampu memberikan kontribusi dalam menciptakan generasi yang berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi. Guru dituntut untuk lebih kreatif dan mampu mencari alternatif penyelesaian masalah belajar anak pada khususnya.

Proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah harus bisa memadukan dan menyelaraskan antara aktivitas dan kreativitas guru dengan aktivitas dan kreativitas peserta didik secara harmonis dan dinamis, terlebih lagi guru harus mampu membangkitkan partisipasi aktif peserta didik di dalam kelas, dan dapat lebih memaknai kegiatan pembelajaran di kelas terutama pada pelajaran matematika.
Berbagai permasalahan yang dihadapi oleh guru matematika, salah satunya adalah kesulitan peserta didikdalam belajar matematika. Kesulitan-kesulitan tersebut antara lain kesulitan dalam pemahaman konsep, pemecahan masalah (mathematical problem solving), penalaran matematika (mathematical reasoning), koneksi matematika (mathematical conection), penerjemahan soal cerita, komunikasi matematika (mathematical communication), dan lain-lain. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan matematika di Indonesia telah banyak dilakukan oleh berbagai pihak yang peduli kepada pembelajaran matematika.
Keberhasilan proses pembelajaran merupakan hal utama yang didambakan dalam melaksanakan pendidikan di sekolah. Sebagai upaya meningkatkan keberhasilan dalam pembelajaran matematika pada masa sekarang, telah banyak dikembangkan metode-metode yang bersifat behavioristik (memanusiakan manusia), seperti: student active learning, quantum learning, quantum teaching, dan peer Teaching. Seluruh metode tersebut digunakan dalam rangka revolusi belajar yang melibatkan guru dan peserta didiksebagai satu kesatuan yang mempunyai hubungan timbal balik. Peran guru sebagai pengajar/ fasilitator, sedangkan peserta didikmerupakan individu yang belajar.
Di dalam proses pembelajaran disekolah harus menjadi perhatian khusus oleh guru dan siswa. Proses belajar ini didukung oleh kurikulum yang sesuai, kurikulum yang sedang dikembangkan saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Kurikulum ini merupakan pengembangan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004. Keberhasilan pembelajaran berdasarkan kompetensi yang ditetapkan sejak awal kegiatan pembelajaran. Dengan demikian semua pihak yang berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran (guru dan siswa) telah mengetahui arah pembelajaran. Untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran diperlukan langkah-langkah agar tujuan yang ditetapkan tercapai. Hal-hal yang harus dilakukan adalah menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi pokok.
Agar proses pembelajaran berhasil, guru diharapkan mampu menerapkan metode yang tepat dan sesuai dengan pengajaran matematika, guru diharapkan menanamkan prinsip atau rumus yang ada. Seperti yang dikemukakan Slameto (2010 : 76) bahwa “ Belajar yang efesien dapat tercapai apabila dapat menggunakan strategi belajar yang tepat. Strategi belajar diperlukan untuk dapat mencapai hasil yang semaksimal mungkin”. Dalam hal ini sebelum peserta didikmemecahkan masalah dalam pelajaran matematika, peserta didikharus memahami masalah tersebut secara menyeluruh. Ia harus tahu apa yang diketahui, apa yang dicari, rumus atau teorema yang harus digunakan dan cara penyelesaiannya. Untuk itu dalam mengerjakan masalah-masalah yang timbul dari matematika diperlukan siasat atau strategi dalam penyelesaiannya.
Mengingat begitu pentingnya strategi dalam pemecahan masalah matematika, maka untuk menyelesaikan masalah yang pada kenyataannya peserta didikmasih kesulitan dalam memahami masalah tersebut, sangat diperlukan langkah-langkah untuk mempermudah pemahamannya. Salah satu strategi yang efektif dalam menciptakan pembelajaran aktif dan menyenangkan tentunya dengan melibatkan peserta didikdalam kegiatan diskusi di kelas. Pembelajaran dengan suasana belajar aktif dan memberikan strategi dalam pemecahan masalah dapat menggunakan metode peer Teaching.
Metode Peer Teaching adalah seseorang atau beberapa orang peserta didikyang ditunjuk oleh guru sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas. Dengan demikian, seseorang peserta didiklebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawan yang lain karena tidak adanya rasa enggan atau malu bertanya, seperti yang disampaikan Widodo (1997 : 12) bahwa proses belajar tidak harus berasal dari guru, peserta didikbisa saling mengajar dengan peserta didikyang lainnya, Sehingga tujuan kebermaknaan pembelajaran Matematika dapat tercapai. Berkaitan dengan mata pelajaran matematika tersebut diperlukan metode Peer Teaching yang akan mendorong peserta didikuntuk mengatur dan menguraikan apa yang telah mereka pelajari disamping untuk menjelaskan materi kepada yang lainnya. Selain itu,  peer Teaching dapat mempertinggi ikatan sosial pada diri peserta didikdalam kegiatan belajar. Teknik ini juga merupakan cara efektif untuk meningkatkan pencapaian akademik bagi tutor dan tutee, bermanfaat untuk pemecahan masalah, dan juga efektif dalam membantu mengembangkan kreatifitas, eksperimentasi, kemampuan memecahkan masalah, dan mempelajari konsep yang mendalam.

B.           RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah pengertian, tujuan dan manfaat metode pembelajaran Peer Teaching?
2.      Bagaimana sejarah Peer Teaching dalam dunia pendidikan ?
3.      Bagaimana strategi metode pembelajaran Peer Teaching?
4.      Apa saja kelebihan dan kekurangan metode pembelajaran Peer Teaching?

C.           TUJUAN
  1. Mengetahui pengertian, tujuan dan manfaat metode pembelajaran Peer Teaching
  2. Mengetahui sejarah Peer Teaching dalam dunia pendidikan.
  3. Mengetahui strategi metode pembelajaran Peer Teaching
4.      Mengetahui kelebihan dan kekurangan metode pembelajaran Peer Teaching








BAB II
PEMBAHASAN

A.             PENGERTIAN, TUJUAN DAN MANFAAT METODE PEMBELAJARAN PEER TEACHING
Pengertian, tujuan dan manfaat metode Peer teaching penulis kutip dari beberapa jurnal
internasional,
1.      A CASE STUDY OF PEER TUTORING PROGRAM IN HIGHER EDUCATION,  penulis, Cheng, Ching, Liu, Chang-Chen, National Chung Cheng University, Taiwan
Bruffee (1995) menjelaskan bahwa peer tutoring merupakan salah satu metode yang mendorong aktivitas yang berpusat pada siswa, termasuk pembelajaran mandiri maupun diskusi kelompok informal untuk memastikan bahwa mereka sesuai, efektif dan efisien.
            Jenis peer teaching lainnya adalah cross age tutoring, yaitu menyatukan peserta didikdari berbagai usia dimana peserta didiklebih tua berperan sebagai tutor dan yang lebih muda sebagai tute.
            Tujuan peer teaching pada jurnal ini adalah :
a.         Mengurangi tingkat putus sekolah.
b.        Menyebarkan ide-ide para tutor
c.         Mengembangkan keterampilan komunikatif dan kemampuan kerja tim
d.        Mendorong belajar mandiri
e.         Mengembangkan kemampuan belajar
f.         Mengembangkan kemampuan pemecahan masalah tertentu

Manfaat peer teaching adalah :
a.         Membantu peserta didikmenjadi pembelajaran mandiri dan termotivasi
b.        Meningkatkan kemampuan belajar





2.        MATH PEER TUTORING FOR STUDENT WITH SPECIFIC LEARNING DISABILITAS, penulis D. Miller, The University of Southern Mississippi, Patricia M. Barbetta, Florida International University, Gregg E. Drevno Talbot, County Public Schools Stacy, A. Martz and Timothy E. Heron, The Ohio State University, 1994
Penulis menerangkan bahwa peer tutoring sangat tepat digunakan pada peserta didikyang mengalami kemampuan belajar spesifik dalam meningkatkan kemampuan dasar matematika mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah bahkan ditempat kerja.
Manfaat peer tutoring dalam jurnal ini adalah mengembangkan kemampuan matematika Peer tutoring terdiri dari :
a.         Classwide peer tutoring (CWPT), semua peserta didikbekerja secara berpasangan secara bersamaan
b.        Cross-age tutoring, guru lebih tua dari tute dan berasal dari sekolah yang sama
c.         One to one tutoring, peserta didikhanya membutuhkan satu peserta didiklainnya sebagai tutor
d.        Small group intruction, setiap kelompok bergantian sebagai tutor untuk kelompok lainnya
e.         Home based tutoring, orang tua berfungsi sebagai tutor

3.        COOPERATIVE LEARNING AND PEER TUTORING TO PROMOTE STUDENT’S MATEMATICH EDUCATION, penulis associate professor, departement of matematich, university of pavia, Italy
            Pembelajaran kooperatif dan peer tutoring saling berketergantungan dalam keberhasilan individu.
      Tujuan peer tutoring pada jurnal ini adalah :
a.         Membuat murid bertanggung jawab dalam proses belajar mereka sendiri
b.        Mengembangkan kompetensi siswa
c.         Memahami kesulitan murid


Manfaat peer tutoring adalah :
a.         Menghilangkan ketegangan dan kegelisahan peserta didikdalam hubungannya dengan guru
b.        Memberi kebebasan yang lebih besar dan spontanitas
4.  PEER TUTORING AND SOCIAL DYNAMIC IN HIGHER EDUCATION, penulis    Janet W. Colvin,   university of Utah, USA (2007)

            Penelitian ini berfokus pada peserta didikdan tutor pada peserta didikdan tutor dalam berinteraksi dikelas pendidikan tinggi yang memnghabiskan banyak waktu dan penuh dengan kesalahpahaman dan perebutan kekuasaan. Peer tutoring melibatkan orang-orang dari kelompok sosial yang sama untuk mendidik satu sama lain ketika salah satu rekannya memiliki lebih banyak keahlian atau pengetahuan. Stategi dari peer tutoring adalah peserta didikmengajari peserta didiklainnya.
Goodlad (1998) menyarankan untuk melibatkan peserta didikdalam tanggung jawab mereka sendiri dengan orang lain untuk meningkatkan interaksi sosial dan mentransformasikan belajar dari pribadi ke kegiatan sosial.
Tujuannya adalah :
a.         Mengembangkan kemampuan belajar
b.        Mengevaluasi hasil kerja
c.         Menyelesaikan masalah-masalah tertentu
d.        Mendorong belajar mandiri
e.         Mengurangi angka putus sekolah
f.         Memberi dukungan kepada siswa

Manfaatnya adalah :
a.         Memberikan dukungan satu sama lain
b.        Membangun kepercayaan dan hubungan yang baik
c.         Merefleksikan pengalaman mereka sendiri



5. PEER TUTORING A STRATEGY TO PROMOTE ACADEMIC SUCCESS, penulis Michelle Nguyen Duke University, Research Brief, 2013

           Durham public school (DPS) mengembangkan peer tutoring sebagai strategi pembelajaran yang sukses untuk menjangkau peserta didikberkinerja rendah melalui program CATCH (Caring About the Concepts That Help) dengan cara melatih mentor untuk sekolah menengah. Program CATCH dirancang untuk mencocokkan peserta didikyang berkinerja tinggi dengan peserta didikyang sedang berjuang untuk sukses akademis dibawah pengawasan guru. Hal ini merupakan pencegahan tingkat putus sekolah di negeri ini yng menyebabkan tingginya tingkat pengangguran di AS.
           Peer tutoring merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan peserta didikdan ditemukan di setiap mata pelajaran untuk meningkatkan prestasi akademik siswa. Peer tutoring mengacu pada metode pembelajaran berpasangan yang menggunakan peserta didikberkinerja tinggi sebagai guru dan berkinerja rendah sebagai tute dalam kelas lebar atau ditempat umum di luar sekolah dibawah pengawasan guru.
           Tujuannya adalah :
a.    Mengurangi tingkat putus sekolah
b.    Meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didikterhadap hasil akademik yang diperoleh
c.    Meningkatkan prestasi membaca peserta didiksetelah melakukan peer tutoring kelas membaca
d.   Memberikan pembelajaran yang berbeda pada peserta didikpenyandang cacat dan non cacat tanpa mengasingkannya melalui gaya belajar dan kecepatan berfikir siswa.
e.    Penurunan perilaku menggangu dan peningkatan dalam interaksi sosial
f.     Meningkatkan prestasi akademik siswa
Manfaatnya adalah :
a.    Penurunan perilaku menggangu dan peningkatan dalam interaksi sosial
b.    Meningkatkan prestasi akademik siswa





B.   SEJARAH PEER TEACHING DALAM DUNIA PENDIDIKAN.

Definisi peer tutoring adalah "sistem pengajaran di mana siswa saling membantu dan belajar (sendiri) dengan mengajar,".inti dari definisi ini adalah kata “rekan”, yang berarti seseorang dengan yang sama atau status hampir sama seperti orang yang sedang diajari, dengan demikian, bukan instruktur profesional. Tutor teman sebaya telah memainkan peran penting dalam pendidikan dan mungkin telah tumbuh dalam beberapa wujud sejak awal peradaban. Tetapi penggunaannya tercatat pertama kali dari sebuah proyek pembelajaran yang diselenggarakan sistematis di Dunia Barat yang terjadi setelah tahun1700-an.
Muncul dari mahalnya biaya sekolah di akhir abad 18 dan awal abad 19, tutor teman sebaya menjadi cara yang efektif untuk diberikan kepada orang yang kurang mampu (saat ini, sayangnya, hanya laki-laki) anak yang menjadi focus dalam pendidikan. Pendekatan sistematis peer tutoring pertama dilakukan oleh Andrew Bell, yang merupakan pengawas dari Militer Pria Asylum di Egmore, inggris. Ketika Bell mengambil kendali di lembaga ini, Asylum dijalankan sebagai sekolah untuk anak-anak yang ayahnya terbunuh selama masa perang. Bell mengubah asylum menjadi lebih dari sebuah sekolah resmi.
Seperti banyak ide bagus lain, pemikiran Bell pada pelaksanaan tutor teman sebaya berasal dari sesuatu yang sangat aneh, secara tidak sengaja. Pernah menjadi pengawas dan ia mengamati beberapa anak menggambar di pasir pantai suatu hari, dan kemudian memperkenalkan ide menggunakan nampan pasir sebagai bahan penulisan yang murah di sekolahnya. Karena seluruh staf pengajarnya berpikir ini adalah tidak masuk akal, Bell mulai menggunakan monitor - anak untuk mengajar satu sama lain dengan pasir - untuk memastikan bahwa nampan pasir memang sedang digunakan. Bell kemudian menyadari bahwa penggunaan monitor anak ini adalah penemuan jauh lebih signifikan dari pada mencoba untuk memotong biaya  menggunakan praktik mengajar yang sangat tidak ortodoks dan pembelajaran dengan pasir.
Jadi, selama tahun 1791 dan 1792, Bell mendesain ulang sekolahnya sehingga setiap orang memiliki peran khusus dengan tugas-tugas yang terkait. Dia mengelompokkan siswa berdasarkan hasil pencapaian mereka. Jika seorang siswa baik, dia dapat dipromosikan ke kelas yang lebih baik, jika tidak baik, dia bisa diturunkan ke yang lebih rendah. Bell mengatur setiap kelas sedemikian rupa bahwa setengah dari siswa akan tampil sebagai tutor dan setengah lainnya akan menerima bantuan instruksional tutor . Juga, guru, asisten pengajar dan mereka akan berkeliaran di seluruh sekolah membantu anak-anak, memantau dan menanyai siswa untuk memastikan sistem pengajaran bekerja.
Dengan sistem eksperimental ini , Bell beralasan bahwa tutor "mengaktifkan murid untuk mengikuti pembelajaran kelas, di mana jika tidak, beberapa dari mereka akan gagal, dan terdegradasi ke kelas yang lebih rendah, atau tetap tinggal dikelas tersebut, kehilangan kesempatan untuk perbaikan karena tidak belajar salah satu pelajaran sebagaimana seharusnya dipelajari. Percobaan Bell diperkirakan telah menjadi salah satu contoh pertama dari pendekatan sistem untuk mendidik orang. Memanfaatkan percobaan tutorial Bell beberapa tahun ke depan adalah seorang pria bernama Joseph Lancaster, yang juga tertarik dengan gagasan untuk menyediakan pendidikan bagi anak-anak yang tidak mampu,karena kelas sosial keluarga mereka. Lancaster membuka sebuah sekolah di London, Inggris pada tahun 1801 di mana dia bertanggung jawab untuk sekitar 350 siswa. Ia menyadari bahwa dia tidak dapat mengajarkan siswa dalam jumlah besar dan menjaga ketertiban pada saat yang sama, ia memutuskan bahwa anak laki-laki yang memenuhi syarat untuk mengajar orang-orang yang tahu bahkan kurang, dan memberikan anak-anak ini sarana untuk melakukannya.
Lancaster mengubah sedikit metode Bell dengan memberikan tutor nya bahan ajar rinci untuk membantu mereka membantu orang lain dan diri mereka sendiri. dirancang sangat terstruktur, bahan ajar terorganisir; ia juga datang dengan kunci jawaban, dimana siswa dapat digunakan untuk membantu siswa lain pada materi yang mereka pelajari, sedangkan siswa yang lebih tua memonitor mereka. Hal ini dilakukan sementara Lancaster mengajar sekelompok siswa yang berbeda. Jadi, dengan cara ini para siswa yang tidak memiliki waktu menganggur dan terlibat dalam proses pembelajaran sekolah. Aspek lain yang unik dari pendekatan ini adalah bahwa hal itu memungkinkan siswa yang tidak mungkin bahkan telah akrab dengan materi pelajaran untuk benar-benar bertanggung jawab mengajarkannya. Mereka melakukan ini dengan cara yang memiliki kunci jawaban dan menonton siswa lain menyelesaikan masalah sebelum memberikan siswa jawaban.
Pemain kunci lain dalam pengenalan sistematis peer tutoring adalah William Fowle. Fowle juga menggunakan pendekatan bersifat nasihat di sekolahnya di Inggris pada akhir 1800-an. Ia melakukan studi pada murid-muridnya dan mulai memberikan beberapa teori pendidikan untuk mendukung praktik rekan tutorial. Fowle menyimpulkan bahwa anak-anak bisa, dalam beberapa hal menjadi guru yang lebih baik daripada orang dewasa karena anak-anak bisa tahu bahwa mereka berada dalam perahu yang sama. Idealnya, hal ini menyebabkan mereka menjadi lebih perhatian dan menghormati perasaan masing-masing, daripada merasa panik karena harus bekerja dengan orang dewasa yang mereka mungkin merasa menghakimi mereka dan pekerjaan mereka setiap langkah demi langkahnya.
Pendidik Amerika yang berbagi kurangnya dukungan keuangan yang diperlukan untuk mengangkat guru dalam jumlah besar mendengar tentang ide-ide Bell, Lancaster dan Fowle. Mengambil isyarat dari orang-orang ini dari tanah Inggris mereka, instruktur Amerika sering mengandalkan siswa tertentu untuk mengajar orang lain sebelum sistem sekolah itu diberlakukan. Ini adalah kelahiran dari peer tutoring di Amerika. Dan sementara itu sangat mungkin bahwa bimbingan dalam format yang sangat berbeda yang terjadi di pendidikan tinggi (dan tempat lain), penting untuk dicatat bahwa ide-ide orang-orang ini yang sangat berpengaruh sebelum penggunaan guru profesional menjadi lebih luas di US.

C.    STRATEGI  METODE PEMBELAJARAN PEER TEACHING
            Tantangan yang dihadapi oleh para penggerak dunia pendidikan saat ini semakin banyak. salah satunya adalah perubahan atmosfer dunia pendidikan yang sebagian besar dipengaruhi oleh adanya perkembangan teknologi yang akan terus terjadi. Perlu kita ketahui bahwa selain memberi dampak yang baik bagi peningkatan kualitas pembelajaran ternyata perkembangan teknologi ini juga memberikan efek samping yang kurang baik bagi dunia pendidikan terutama jika menyangkut tentang penyalahgunaan yang terjadi di lingkungan peserta didik. Karenanya dalam menyampaikan pelajaran dan menjawab tantangan perkembangan teknologi yang terjadi, seorang tenaga pendidik haruslah aktif dalam mengikuti perkembangan tersebut dan memikirkan strategi pembelajaran yang baik untuk para peserta didik yang dimilikinya. Strategi pembelajaran merupakan cara atau metode yang digunakan untuk melakukan pengajaran yang baik dan efektif yang diantaranya terbagi menjadi:
1.      Strategi pembelajaran secara langsung, Dalam hal ini para guru merupakan pemeran utama dalam penyampaian materi  kepada para peserta didik yang dengannya para guru harus aktif memberikan materi secara langsung. Untuk strategi pembelajaran seperti ini bersifat deduktif
2.      Strategi pembelajaran tidak langsung. Dalam strategi ini lebih dipusatkan pada para peserta didikyakni guru hanya berperan sebagai fasilitator yang bertugas mengelola lingkungan kondusif saat pembelajaran berlangsung.
3.      Strategi pembelajaran interaktif. Strategi ini menekankan komunikasi yang terjalin antara peserta didik dengan peserta didik yang lainnya maupun peserta didik dengan guru melalui kegiatan diskusi dan sharing untuk memecahkan sebuah permasalahan, kelebihan dari strategi ini adalah mengajak peserta didik untuk lebih aktif dan peka terhadap setiap permasalahan yang dibahas dalam pembelajaran tersebut
4.      Strategi pembelajaran empirik, ini merupakan sebuah strategi pembelajaran yang lebih menekankan aktivitas yang dilakukan oleh para peserta didik selama masa pembelajaran.
5.      Strategi pembelajaran mandiri yang dengannya bertujuan untuk meningkatkan potensi masing-masing peserta didik serta mengakomodir inisiatif yang mereka miliki untuk mengembangkan dirinya sendiri.
Dalam hal ini. Metode pembelajaran Peer Teaching merupakan strategi pembelajaran interaktif dengan sistem pengajaran tutor sebaya yang akan membantu peserta didikyang kurang mampu atau kurang cepat menerima pelajaran dari gurunya. kegiatan tutor sebaya bagi peserta didikmerupakan kegiatan yang kaya akan  pengalaman yang sebenarnya merupakan kebutuhan peserta didikitu sendiri. tutor maupun yang ditutori sama-sama diuntungkan, bagi tutor akan mendapat pengalaman, sedang yang ditutori akan lebih kreatif dalam menerima pelajaran.
Tampaknya lebih mudah bagi peserta didikuntuk mengeluarkan pendapat atau pikiran dan kesulitan kepada temannya sendiri ketimbang kepada guru, peserta didiklebih sungkan dan malu. Hal tersebut dimungkinkan karena diantara peserta didiktelah terbentuk bahasa mereka sendiri, tingkah laku, dan  juga pertanyaan perasaaan yang dapat diterima oleh semua siswa
Adapun langkah-langkah metode pembelajaran Peer Teaching yang penulis kutip dari beberapa jurnal, diantaranya :
1.  Jurnal dengan judul STUDENT PEER TEACHING STRATEGY, penulis Tan Tee Hwa   Bangkok: UNESCO Bangkok, 2009
Dalam jurnal ini, Tan Tee Hwa menyajikan pembelajaran Peer Teaching dalam beberapa tahapan
sebagai berikut :
ž  Mengatur bahan ajar yang akan diberikan kepada peserta didik
Artinya, seorang guru yang baik harus mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk melaksanakan proses pembelajaran secara matang.
ž  Mengidentifikasi topik untuk pelajaran yang akan diberikan berdasarkan kebutuhan peserta didikpada tahun ini.
Pada step yang kedua ini, Tan Tee Hwa membuat metode Peer Teaching diakhir-akhir semester untuk mengulang kembali pembelajaran. Kebutuhan yang dimaksud iyalah para peserta didikyang masih kurang jelas atau kurang memahami suatu pokok bahasan, maka pembahasan tersebut diangkat kembali untuk dibahas secara bersama
ž  Guru membagi para peserta didikmenjadi beberapa kelompok
ž  Setiap kelompok memilih satu topik  untuk didiskusikan disertai lembar kegiatan.
ž  Guru bekerja dengan kelompok untuk memastikan bahwa beberapa keterampilan dasar dipelajari: seperti teknik bertanya dan menjawab. Komunikasi antar kelompok dan mengisi LKS
ž  Pembelajaran harus memiliki ICT - teks, gambar, applet, audio, video, dll
ž  50 persen dinilai dari proses pembelajaran dan lembar kegiatan serta bagaimana mereka meningkatkan pembelajaran dan 50 persen dinilai dari cara mereka mempresentasikan hasil diskusi
ž  Mempersiapkan waktu untuk masing-masing kelompok mempresentasikannya didepan kelas
ž  Guru mengatur kelompok-kelompok peserta didikuntuk melatih mereka mengajar di kelas.
ž  Siapkan lembar komentar untuk memungkinkan peserta didikuntuk memberikan  kritik yang membangun kepada kelompok

2.         Jurnal dengan judul MATH PEER TUTORING FOR STUDENTS WITH SPECIFIC LEARNING DISABILITIES, penulis April D. MillerThe University of Southern Mississippi,
Patricia M. BarbettaFlorida International University , Gregg E. DrevnoTalbot County Public SchoolsStacy . A. Martz and Timothy E. Heron The Ohio State University
, 1994
Dalam jurnal ini, mereka menyajikan pembelajaran Peer Teaching dalam beberapa tahapan sebagai berikut :
a)        Membuat persiapan
Dalam step pertama, membuat persiapan sebelum pembelajaran dengan metode pembelajaran Peer Teaching
—  Format bimbingan
guru harus mempertimbangkan karakteristik siswa, sumber daya yang tersedia, dan tujuan dari pembelajaran untuk memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran.
—  Memilih rekan
Peserta didikdapat dipasangkan oleh guru, baik secara acak, berdasarkan tingkat keahlian, atau dengan pertimbangan khusus bagi peserta didikdengan perilaku atau berprestasi, peserta didikbergiliran mempresentasikan, masing-masing menghabiskan 5 sampai 10 menit sebagai tutor.
—  Melatih tutor
Melatih tutor dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.
—  Mengatur suasana pembelajaran
Mengatur suasana belajar memerlukan peran guru dalam penjadwalan. Bimbingan dapat diimplementasikan sesedikit seminggu sekali atau sesering setiap hari. Namun, minimal 2-3 hari seminggu dianjurkan agar tutor dan tutees dapat menggunakan perilaku terlatih. Bimbingan biasanya berlangsung 30 menit, dengan 20 menit disediakan untuk pembelajaran dan 10 menit untuk tes, ulasan, dan transisi
b)   Menjalankan program
—   Pre-test
—   Latihan
—   Tes

c)    Pengayaan dan ekstensi
Praktek Tambahan memberikan pengayaan dan perluasan kegiatan yang berkaitan dengan topic pembelajaran. Misalnya, jika peserta didikberlatih fakta-fakta matematika, mereka mungkin menggunakan masalah kata atau aplikasi selama latihan generalisasi. Formula, waktu, uang, pecahan, pengukuran, konversi, estimasi, dan banyak keterampilan lainnya dapat dimasukkan dalam program ekstensi. Guru diingatkan untuk mengarahkan di mana fakta, aplikasi, atau konsep dapat dimasukkan atau diperpanjang. Prosedur ini berfungsi sebagai review yang baik dan memfasilitasi generalisasi dengan situasi baru.

3.         Jurnal dengan judul COOPERATIVE LEARNING AND PEER TUTORING TO PROMOTE STUDENTS’ MATHEMATICS EDUCATION, penulis : Angela Pesci  ,Associate Professor , Department of   Mathematics, University of Pavia, Italy
Dalam jurnal ini, pesci menyajikan metode Peer Teaching ini dengan strategi sebagai berikut
ž  Guru mempersiapkan bahan ajar , rencana pembelajaran serta LKS dengan tingkat kesulitan bertahap.
ž  Guru membentuk kelompok-kelompok kecil yang diberisi 3 atau 4 peserta didikdengan perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar dan hubungan interpersonal.
ž  Guru mengatur waktu untuk melaksanakan metode ini.
ž  Selama kegiatan, guru harus selalu tersedia sebagai ahli untuk menyelesaikan kemungkinan masalah yang ditemukan tutor dan sebagai pengawas kegiatan
ž  Guru memberikan  formulir untuk memantau kesulitan dan kemampuan tutee pada tiap pertemuan kepada masing-masing tutor
ž  Tutor memberi laporan dari hasil diskusi bersama tutee.

Dari ketiga jurnal tersebut, para penulisnya membuat langkah-langkah pembelajaran metode Peer Teaching dengan kombinasi yang berbeda sesuai dengan apa yang dibutuhkan peserta didikpada penelitian mereka.
Berikut adalah persamaan dan perbedaan step-step yang dilaksanakan pada ketiga jurnal tersebut :
Nama Jurnal
Persamaan
Perbedaan
1.   STUDENT PEERTEACHING STRATEGY, penulis Tan Tee Hwa  
·          Mempersiapkan bahan ajar sebelum memulai proses pembelajaran
·          Membentuk kelompok kecil beranggotakan 3-4 orang
·          Masing-masing kelompok diberi masalah yang berbeda-beda
·          Guru menentukan tutor dari tiap kelompok
·          Guru menjadi fasilitator untuk meluruskan pemahaman tutor tentang topic yang diberikan, agar penjelasan tutor ke tutee tidak menyimpang
·          Memberikan waktu untuk berdiskusi dan mempresentasi
·          Tutee memberikan kritik dan saran
·         Melaksanakan metode Peer teaching ini diakhir semester untuk mereview kembali pelajaran yang mendapat hasil yang kurang diharapkan.
·         Melaksanakan pembelajaran Peer Teaching dengan ICT untuk memudahkan tutee memahami topic yang disajikan
2.   Math Peer Tutoring for Students with Specific Learning Disabilities, penulis April D. Miller,
Patricia M. Barbetta,  Gregg E. DrevnoTalbot . A. Martz and Timothy E. Heron
·         Membuat format bimbingan untuk menentukan tutor dengan mempertimbangkan sumber daya, tingkat keahlian dan karakteristiknya
·         Menyisakan 10 menit terakhir untuk tes dan ulasan mengenai pemahaman peserta didiktentang topic yang telah dibahas
·         Melaksanakan Metode Peer Teaching 2-3 hri seminggu agar tutor dan tutee bias menjalin komunikasi yang baik
·         Memberikan pengayaan dan ekstensi Tambahan yang berkaitan dengan topic
3.   Cooperative Learning and Peer Tutoring to Promote Students Mathematics Education, penulis : Angela Pesci  
·         Melaksanakan Metode peer Teaching untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami dalam pembelajaran
·         Memberikan formulir kepada masing-masing tutor untuk menilai para tutee dikelompoknya masing , tentang aktivitas, semangat dan kesulitan dalam berdiskusi yang nantinya formulir tersebut menjadi pegangan untuk guru dalam menentukan strategi berikutnya

Pada intinya, strategi metode pembelajaran Peer Teaching dapat dilaksanakan dengan menambahkan beberapa step yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itu, perlunya kemampuan analisis guru untuk mengontrol perkembangan peserta didikdan apa yang dibutuhkan peserta didikuntuk memperoleh hasil belajar yang baik.




D.    KEKURANGAN DAN KELEBIHAN METODE PEMBELAJARAN PEER TEACHING
1.        Cooperative Learning And Peer Tutoring To Promote Students’ Mathematics Education
Angela Pesci Associate Professor, Department of Mathematics, University of Pavia, Italy angela.pesci@unipv.it
Dalam jurnal ini, dijelaskan beberapa keunggulan dan kelemahan pembelajaran peer teaching:
KEUNGGULAN :
ž  Melatih keterampilan kelompok dalam berfikir kreatiF
ž  Meningkatkan rasa tanggung jawab yang tinggi
ž  Membangun semangat peserta didikdalam belajar
KEKURANGAN  :
ž  Memerlukan waktu yang lama
ž  Harus memiliki peserta didikyang banyak
ž  Memerlukan perhatian guru yang cukup ekstra ketat.

2.        Peer Tutoring And Social Dynamics In Higher Education
Janet W. Colvin, University of Utah, USA
Dalam jurnal ini, dijelaskan beberapa keunggulan dan kelemahan pembelajaran peer teaching:
BAGI SISWA
a.         Meningkatkan kepercayaan diri
b.         Pengembangan ilmu sosial dan prilaku disiplin serta bertangung jawab
c.         Meningkatkan keterampilan berbicara
d.        Meningkatkan prestasi akademik
BAGI TUTOR
a.         Mendorong berfikir tingkat tinggi
b.         Meningkatkan motivasi untuk belajar
c.         Meningkatkan pengetahuan umum
BAGI LEMBAGA / PROGRAM PENDIDIKAN
a.         Meningkatkan pembelajaran yang lebih dalam materi yang ada pada gilirannya memungkinkan koordinator untuk mengatur.

3.        The Effectiveness Of Peer Tutoring In Further And Higher Education: A Typology And Review Of The Literature
K.J. TOPPING Centre for Paired Learning, Psychology Department, University of Dundee, Dundee DDI 4HN, Scotland.
Dalam jurnal ini, dijelaskan beberapa keunggulan dan kelemahan pembelajaran peer teaching:
KEUNGGULAN
a.         Mahapeserta didikenggan untuk bertanya pada kelas reguler dapat diminalisir.
b.         Meningkatkan pemahaman mahapeserta didikakan materi materi yang ada,
c.          Mendorong peserta didikyang berperan sebagai pengajar akan meningkatkan kualitas kelompok.
KEKURANGAN
a.         Tidak seluruhnya guru benar-benar memahami cara masing – masing peserta didikbekerja kelompok
b.         Perlu dimodivikasi agar sesuai diterapkan pada peserta didik
c.         Didominasikan oleh peserta didikyang suka berbicara ( ingin menonjolkan diri  )




BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan pembelajaran peer teching merupakan pembelajaran yang tujuannya agar peserta didikdapat memahapi materi ajar dengan baik dan dapat mentransfer apa yang dipahami kepada temanya. Pemahaman yang ingin dikembangkan disini adalah pemahaman tehadap materi pembelajaran secara spesifik, selain itu pembelajaran peer teaching meningkatkan keterampilan kumunikasi dan kerja tim. Dimana dalam komunikasi dan kerja sama yang baik akan memudahkan peserta didikmemecahkan permasalahan yang dihadapi.
            Peer teaching adalah metode atau teknik menyampaikan materi ajar melalui rekan atau bantuan teman sendiri, mulai dari pembelajaran materi sampai juga penilaian dilakukan dari dan oleh siswa dalam kelompok itu sendiri ( self - assesment and peer assisment) Sedangkan untuk nilai akhir adalah pengabungan antara penilaian oleh guru dn teman sebaya.Proses belajar tidak harus berasal dari guru, siswa bisa saling mengajar dengan siswa yang lainnya, Sehingga tujuan kebermaknaan pembelajaran Matematika dapat tercapai. Berkaitan dengan mata pelajaran matematika tersebut diperlukan metode Peer Teaching yang akan mendorong siswa untuk mengatur dan menguraikan apa yang telah mereka pelajari disamping untuk menjelaskan materi kepada yang lainnya. Selain itu,  peer Teaching dapat mempertinggi ikatan sosial pada diri siswa dalam kegiatan belajar. Teknik ini juga merupakan cara efektif untuk meningkatkan pencapaian akademik bagi tutor dan tutee, bermanfaat untuk pemecahan masalah, dan juga efektif dalam membantu mengembangkan kreatifitas, eksperimentasi, kemampuan memecahkan masalah, dan mempelajari konsep yang mendalam.

B.       SARAN
1. Guru

a.       Hendaknya guru dapat menyajikan pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran kooperatif peer teaching yang menggunakan media slide dengan baik sehingga dapat meningkatkan perhatian siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
b.      Hendaknya guru mampu mengembangkan dan mengatasi hambatan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif peer teaching dengan menggunakan media slide.
c.       Hendaknya guru dapat mengevaluasi hasil yang diperoleh dan mengambil keputusan yang tepat dengan penerapan pembelajaran kooperatif peer teaching dengan menggunakan media slide.

2. Siswa
a.       Hendaknya siswa dapat memberikan respon yang baik terhadap guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif peer teaching yang menggunakan media slide dengan baik sehingga dapat meningkatkan perhatian siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
b.      Hendaknya siswa yang mempunyai kemampuan lebih dari siswa lain sebaiknya mengkomunikasikan dan menularkan pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki oleh siswa lain.

3. Sekolah
a.       Hendaknya sekolah dapat menerapkan pembelajaran kooperatif peer teaching dengan menggunakan media slide untuk materi pokok lain.
b.      Hendaknya sekolah dapat menyediakan sarana pembelajaran yang bermanfaat untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru.












DAFTAR PUSTAKA

Google. (2014, 13 september). cooperative learning and peer tutoring to promote student’s
matematich education, Diperoleh 13 september 2014, dari math.unipa.it/~grim/21.../Pesci486490.pdf

Google. (2014, 13 september). math peer tutoring for student with specific learning disabilitas, Diperoleh 16 september 2014, dari www.cldinternational.org/.../mathseries/miller2.pdf

Google. ( 2014, 13 september). student peer teaching strategy,Diperoleh 13 september 2014, dari http://unesdoc.unesco.org/images/0018/001833/183309e.pdf

google. (2014, 16  september).a case study of peer tutoring program in higher education. diperoleh 16 september 2014, dari www.aabri.com/manuscripts/11757.pdf

Google. (2014, 16 september). peer tutoring a strategy to promote academic success, Diperoleh
16 september 2014, dari

Google. (2014, 16 september ). peer tutoring and social dynamic in higher education,Diperoleh 16 september 2014, dari

Google. (2014, 16 september). The Effectiveness Of Peer Tutoring In Further And Higher Education: A Typology And Review Of The Literature, diperoleh 16 september 2014, dari http://www.fau.edu/CLASS/CRLA/Level_Three/The_effectiveness_of_peer_tutoring_in_further_and_higher_education-a_typology_and_review_of_the_literature.pdf


Google. (2014, 30 september ). The History of Peer Tutoring ,Diperoleh 30 september 2014, dari























RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SATUAN PENDIDIKAN                : SMK NEGERI 2 BESITANG
KELAS/ SEMESTER                      : X/ 1
MATA PELAJARAN                      : MATEMATIKA - WAJIB
TOPIK                                               : EKSPONEN DAN LOGARITMA
WAKTU                                            : 2 X 45 MENIT ( 1 x Pertemuan )

A.    TUJUAN PEMBELAJARAN
Dengan kegiatan diskusi dan pembelajaran dalam pembelajaran eksponen dan logaritma ini diharapkan siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bertanggungjawab dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi saran dan kritik, serta dapat menjelaskan pengertian logaritma

B.     KOMPETENSI DASAR
1.1.   Menunjukkan sikap senang, aktif, percaya diri, rasa ingin tahu, sikap kritis, bekerja sama dan jujur dalam menyelesaikan berbagai permasalahan nyata
1.2.   Memiliki sikap tanggungjawab terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif
3.1     Memilih dan menerapkan aturan eksponen dan logaritma sesuai dengan karakteristik permasalahan yang akan diselesaikan dan memeriksa kebenaran langkah-langkahnya
4.1     Menyajikan masalah nyata menggunakan operasi aljabar berupa eksponen dan logaritma serta menyelesaikannya menggunakan sifat- sifat dan aturan yang telah terbukti kebenarannya.

C.    INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI
1.      Terlibat aktif dalam pembelajaran logaritma.
2.      Bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
3.      Tanggungjawab terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
4.      Menjelaskan kembali pengertian eksponen.
5.      Logaritma sebagai invers dari eksponen .

D.     MATERI PEMBELAJARAN
Jika    dan berlaku     maka     dengan    adalah bilangan pokok dan   adalah numerus,  dan  adalah hasil logaritma
Jika     dengan b adalah bilangan positif dan a adalah bilangan positif yang tidak sama dengan  1  maka  x  adalah logarithma  b dengan  bilangan pokok  a  atau ditulis    


E.     METODE PEMBELAJARAN
Pendekatan pembelajaran adalah pendekatan saintifik (scientifik). Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) menggunakan kelompok diskusi yang berbasis masalah (problem based learning)

F.     MEDIA PEMBELAJARAN
ü  Papan Tulis
ü  Alat Tulis
ü  Penghapus
ü  Alat Peraga

G.    SUMBER BELAJAR
ü  Buku Guru Matematika Kelas X Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2013
ü  Buku Siswa Matematika Kelas X Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2013
ü  Lembar penilaian

H.    LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
Pendahuluan
1.      Guru memberikan gambaran tentang pentingnya memahami logaritma dan memberikan gambaran tentang aplikasi logaritma dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Sebagai apersepsi untuk mendorong rasa ingin tahu dan berpikir kritis, siswa diajak memecahkan masalah eksponen dari , ,  dan
3.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu logaritma
10 menit
Inti
1.      Guru menjelaskan kepada siswa tentang definisi logaritma ( .
2.      Dengan tanya jawab, membahas beberapa soal berkaitan dengan definisi logaritma
3.      Guru membagi siswa ke dalam 3 kelompok.
4.      Tiap kelompok mendapat seperangkat kartu sebanyak 20 lembar buatan dari guru.
5.      Guru meminta masing-masing anggota kelompok untuk saling bekerjasama untuk memasangkan dengan benar 20 lembar kartu tersebut ke dalam 10 pasangan kartu yang senilai selama 10 menit
6.      Guru memantau dengan cara berkeliling untuk menilai keaktifan, kerjasama dan tanggung jawab siswa
7.      Kelompok yang pasangan benarnya paling banyak adalah pemenang.
70 Menit
Penutup
1.      Kelompok yang kalah wajib mendefinisikan ulang tentang logaritma
2.      Guru memberikan tugas PR berkaitan definisi logaritma.
3.      Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan untuk tetap belajar.
10 Menit

I.       PENILAIAN
1.      Teknik Penilaian: pengamatan, permainan, tugas rumah
2.      Prosedur Penilaian:
No
Aspek yang dinilai
Teknik Penilaian
Waktu Penilaian
1
Sikap
a.       Terlibat aktif dalam pembelajaran logaritma.
b.      Bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
c.       Tanggungjawab terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
Pengamatan
Selama pembelajaran dan saat permainan
2
Pengetahuan
a.       Menjelaskan kembali pengertian eksponen.
b.      Menyatakan kembali hubungan eksponen dengan logaritma sebagai fungsi saling invers
Pengamatan dan tugas rumah
Penyelesaian tugas rumah



J.      INSTRUMEN PENILAIAN HASIL BELAJAR
Tugas Rumah (PR)
Tuliskan bentuk logaritma dari:
1.     
2.     
3.     
4.     
5.     
Kunci Jawaban:
1.                                                                               nilai 1
2.                                                                           nilai 1
3.                                                                                  nilai 1
4.                                                                                 nilai 1
5.                                                                                  nilai 1
Skor maksimum 5



LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP

Mata Pelajaran            : Matematika
Kelas/Semester            : X/1
Tahun Pelajaran           : 2013/2014
Waktu Pengamatan     : Selama Proses Pembelajaran

Indikator sikap aktif dalam pembelajaran eksponen dan logaritma
1.      Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran
2.      Baik jika menunjukkan sudah ada  usaha ambil bagian dalam pembelajaran  tetapi belum ajeg/konsisten
3.      Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian  dalam menyelesaikan tugas kelompok  secara terus menerus dan ajeg/konsisten

Indikator sikap bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
1.      Kurang baik jika sama sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
2.      Baik jika menunjukkan sudah ada  usaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten.
3.      Sangat baik jika menunjukkan adanya  usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten.

Indikator sikap tanggungjawab terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
1.      Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap tanggungjawab terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
2.      Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap tanggungjawab terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten.
3.      Sangat baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap tanggungjawab terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten.
















Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.
No
Nama Siswa
Sikap
Aktif
Bekerjasama
Tanggungjawab


KB
B
SB
KB
B
SB
KB
B
SB
1










2










3










4










Keterangan:
KB      : Kurang baik
B         : Baik
SB       : Sangat baik

...............,........Juli 2014

Kepala SMK Negeri 2 Besitang                                                       Guru Mata Pelajaran





(                                              )                                                 (                                                       )
NIP.                                                                                           NIP.








HASIL DISKUSI TANYA JAWAB

1.      Yang di bahas dalam jurnal tersebut peer tutoring atau peer teaching !
2.      Bagaimana cara guru menyiapkan tutor tersebut !
3.      Kendala bagi guru dalam menyiapkan tutor tersebut !
4.      Apa maksud dari guru lebih tua dari tute (cross age tutoring) ?
5.      Contoh dari pelaksanaan peer tutoring secara formal atau informal !
6.      Apakah ada kriteria khusus pembagian kelompok dalam peer tutoring ?
7.      Bagaimana kriteria siswa dapat dijadikan sebagai tutor !
8.      Apakah peran guru dalam peer tutoring !
9.      Apakah kendala dalam peer tutoring ?
10.  Bagaimana cara mengatasi siswa pasif !
11.  Apakah maksud dari memberikan pembelajaran yang berbeda tapi tidak mengasingkannya pada peer tutoring !
12.  Bagaimana penilaian dalam peer tutoring ?

JAWAB :
1.      Yang dibahas pada jurnal ini adalah peer teaching, dimana peer teaching dan peer tutoring itu sama tetapi peer tutoring merupakan bagian dari peer teaching. Dimana pengertian Peer teaching adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk oleh guru sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas. Dan peer tutoring adalah mengajari teman sejawat. Peer teaching banyak pembagiannya, salah satunya adalah peer tutoring.
2.      Cara guru menyiapkan tutor Dalam peer tutoring,tutor yang di unjuk adalah siswa yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang lebih sehingga dapat mengajari yang lainnya. Selain itu tutor juga dapat disiapkan dengan cara memberi bimbingan.
3.      Kendalanya adalah pada saat guru menunjuk siswa sebagai tutor, siswa tersebut tidak mempunyai keberanian serta guru memerlukan waktu yang cukup lama dalam pelaksanaanya, dimana guru memerlukan perhatian yang cukup ekstra ketat
4.      Maksud dari guru lebih tua dari tute atau disebut juga cross age tutoring adalah siswa yang ditunjuk menjadi tute adalah yang tingkatan kelasnya lebih tinggi dan berasal dari sekolah yang sama. Mis, siswa kelas VIII berperan sebagai tutor dan kelas VII sebagai tute.
5.      Contoh pelaksanaan peer tutoring secara formal adalah disekolah ( mengajari teman satu kelas atau sekolah), dan informal dilaksanakan diluar sekolah ( mis : les rumahan,orang tua, bimbingan belajar dll)
6.      Dalam pembagian kelompok tidak ada kriteria khusus, jumlahnya boleh berapa saja dan siswa yang memiliki pengetahuan yang lebih berperan sebagai tutornya karena strategi peer tutoring adalah siswa mengajari siswa lainnya.
7.      Kriteria siswa yang ditunjuk sebagai tutor adalah siswa yang dianggap guru lebih pintar dan memiliki pengetahuan atau penguasaan yang lebih dalam pelajaran tersebut sehingga siswa tersebut dapat mengajari siswa lainnya.
8.      Dalam peer tutoring guru berperan sebagai pengawas dan fasilitator. disini tugas guru berkurang, guru tidak lagi secara langsung menjelaskan pelajaran karena telah digantikan oleh tutor dan guru juga dapat membantu tutor jika memiliki kendala dalam menjelaskan atau membuat siswa lain memahami pelajaran yang diterangkan oleh tutor tersebut.
9.      Kendala dalam peer tutoring adalah memiliki waktu yang banyak dalam pelaksanaanya, guru harus memberikan perhatian yang ekstra dalam pelaksanaanya, dan dapat memberikan motivasi bagi siswa agar aktif dalam kelompoknya.
10.  Cara mengatasi siswa pasif adalah dengan cara memberi pujian serta memotivasi anak supaya siswa aktif. Disini siswa akan lebih nyaman dalam bertanya tentang yang tidak diketahui atau kurang dimengerti kepada tutor karena sebaya sehingga pelajaran lebih mudah dimengerti. Pada guru mungkin siswa masih canggung dan takut sehingga siswa tidak memahami pelajaran yang diterangkan oleh guru. Tutor juga dapat memberi motivasi kepada tute dalam pembelajaran
11.  Maksud dari memberi pembelajran yang berbeda tapi tidak mengasingkannya adalah pada siswa penyandang cacat dan non cacat tidak mungkin diberikan pelajaran yang sama karena kemampuan mereka berbeda. Setiap siswa berhak memperoleh pengetahuan tanpa membedakan apakah dia cacat ataupun tidak. Bagi penyandang cacat dapat melakukan pembelajaran disekolah yang sesuai seperti SLB.
12.  Penilaian peer tutoring dapat dilakukan dengan cara pre test, praktek, tes.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar