BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Pendidikan
memegang peranan yang sangat penting dalam mencetak dan membangun generasi
berkualitas. Penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas merupakan investasi
jangka panjang, Namun untuk dapat mencapai tujuan dari pendidikan tersebut
bukanlah hal yang mudah, Perlu adanya berbagai faktor yang dapat mendukung
ketercapaian tujuan pendidikan nasional.
Salah
satu faktor yang berperan sangat penting adalah guru. Guru sebagai agen
perubahan harus mampu memberikan kontribusi dalam menciptakan generasi yang
berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi. Guru dituntut untuk lebih
kreatif dan mampu mencari alternatif penyelesaian masalah belajar anak pada
khususnya.
Proses
pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah harus bisa memadukan dan
menyelaraskan antara aktivitas dan kreativitas guru dengan aktivitas dan
kreativitas peserta didik secara harmonis dan dinamis, terlebih lagi guru harus
mampu membangkitkan partisipasi aktif peserta didik di dalam kelas, dan dapat
lebih memaknai kegiatan pembelajaran di kelas terutama pada pelajaran
matematika.
Berbagai
permasalahan yang dihadapi oleh guru matematika, salah satunya adalah kesulitan
peserta didikdalam belajar matematika. Kesulitan-kesulitan tersebut antara lain
kesulitan dalam pemahaman konsep, pemecahan masalah (mathematical problem
solving), penalaran matematika (mathematical reasoning), koneksi
matematika (mathematical conection), penerjemahan soal cerita,
komunikasi matematika (mathematical communication), dan lain-lain. Oleh
karena itu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan matematika di Indonesia
telah banyak dilakukan oleh berbagai pihak yang peduli kepada pembelajaran
matematika.
Keberhasilan
proses pembelajaran merupakan hal utama yang didambakan dalam melaksanakan
pendidikan di sekolah. Sebagai upaya meningkatkan keberhasilan dalam
pembelajaran matematika pada masa sekarang, telah banyak dikembangkan
metode-metode yang bersifat behavioristik (memanusiakan manusia),
seperti: student active learning, quantum learning, quantum teaching, dan
peer Teaching. Seluruh metode tersebut digunakan dalam rangka revolusi
belajar yang melibatkan guru dan peserta didiksebagai satu kesatuan yang
mempunyai hubungan timbal balik. Peran guru sebagai pengajar/ fasilitator,
sedangkan peserta didikmerupakan individu yang belajar.
Di
dalam proses pembelajaran disekolah harus menjadi perhatian khusus oleh guru
dan siswa. Proses belajar ini didukung oleh kurikulum yang sesuai, kurikulum
yang sedang dikembangkan saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) tahun 2006. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan
dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Kurikulum ini merupakan
pengembangan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004. Keberhasilan
pembelajaran berdasarkan kompetensi yang ditetapkan sejak awal kegiatan
pembelajaran. Dengan demikian semua pihak yang berpartisipasi aktif dalam
proses pembelajaran (guru dan siswa) telah mengetahui arah pembelajaran. Untuk
melaksanakan kegiatan pembelajaran diperlukan langkah-langkah agar tujuan yang
ditetapkan tercapai. Hal-hal yang harus dilakukan adalah menggunakan strategi
pembelajaran yang sesuai dengan materi pokok.
Agar
proses pembelajaran berhasil, guru diharapkan mampu menerapkan metode yang
tepat dan sesuai dengan pengajaran matematika, guru diharapkan menanamkan
prinsip atau rumus yang ada. Seperti yang dikemukakan Slameto (2010 : 76) bahwa
“ Belajar yang efesien dapat tercapai apabila dapat menggunakan strategi
belajar yang tepat. Strategi belajar diperlukan untuk dapat mencapai hasil yang
semaksimal mungkin”. Dalam hal ini sebelum peserta didikmemecahkan masalah
dalam pelajaran matematika, peserta didikharus memahami masalah tersebut secara
menyeluruh. Ia harus tahu apa yang diketahui, apa yang dicari, rumus atau
teorema yang harus digunakan dan cara penyelesaiannya. Untuk itu dalam
mengerjakan masalah-masalah yang timbul dari matematika diperlukan siasat atau
strategi dalam penyelesaiannya.
Mengingat begitu pentingnya strategi dalam pemecahan masalah matematika,
maka untuk menyelesaikan masalah yang pada kenyataannya peserta didikmasih
kesulitan dalam memahami masalah tersebut, sangat diperlukan langkah-langkah
untuk mempermudah pemahamannya. Salah satu strategi yang efektif dalam
menciptakan pembelajaran aktif dan menyenangkan tentunya dengan melibatkan peserta
didikdalam kegiatan diskusi di kelas. Pembelajaran dengan suasana belajar aktif
dan memberikan strategi dalam pemecahan masalah dapat menggunakan metode peer Teaching.
Metode Peer Teaching adalah
seseorang atau beberapa orang peserta didikyang ditunjuk oleh guru sebagai
pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas. Dengan
demikian, seseorang peserta didiklebih mudah menerima keterangan yang diberikan
oleh kawan yang lain karena tidak adanya rasa enggan atau malu bertanya,
seperti yang disampaikan Widodo (1997 : 12) bahwa proses belajar tidak harus
berasal dari guru, peserta didikbisa saling mengajar dengan peserta didikyang
lainnya, Sehingga tujuan kebermaknaan pembelajaran Matematika dapat tercapai.
Berkaitan dengan mata pelajaran matematika tersebut diperlukan metode Peer Teaching yang akan mendorong peserta
didikuntuk mengatur dan menguraikan apa yang telah mereka pelajari disamping
untuk menjelaskan materi kepada yang lainnya. Selain itu, peer
Teaching dapat mempertinggi ikatan sosial pada diri peserta didikdalam
kegiatan belajar. Teknik ini juga merupakan cara efektif untuk meningkatkan
pencapaian akademik bagi tutor dan tutee, bermanfaat untuk pemecahan masalah,
dan juga efektif dalam membantu mengembangkan kreatifitas, eksperimentasi,
kemampuan memecahkan masalah, dan mempelajari konsep yang mendalam.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Apakah
pengertian, tujuan dan manfaat metode pembelajaran Peer Teaching?
2. Bagaimana sejarah Peer Teaching dalam dunia pendidikan ?
3. Bagaimana
strategi metode pembelajaran Peer
Teaching?
4. Apa
saja kelebihan dan kekurangan metode pembelajaran Peer Teaching?
C.
TUJUAN
- Mengetahui
pengertian, tujuan dan manfaat metode pembelajaran Peer Teaching
- Mengetahui sejarah Peer Teaching dalam dunia pendidikan.
- Mengetahui
strategi metode pembelajaran Peer
Teaching
4. Mengetahui kelebihan dan kekurangan
metode pembelajaran Peer Teaching
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN, TUJUAN DAN MANFAAT METODE PEMBELAJARAN PEER TEACHING
Pengertian,
tujuan dan manfaat metode Peer teaching penulis
kutip dari beberapa jurnal
internasional,
1. A
CASE STUDY OF PEER TUTORING PROGRAM IN HIGHER EDUCATION, penulis, Cheng, Ching, Liu, Chang-Chen, National Chung
Cheng University, Taiwan
Bruffee (1995) menjelaskan
bahwa peer tutoring merupakan salah
satu metode yang mendorong aktivitas yang berpusat pada siswa, termasuk
pembelajaran mandiri maupun diskusi kelompok informal untuk memastikan bahwa
mereka sesuai, efektif dan efisien.
Jenis peer teaching lainnya adalah cross age tutoring, yaitu menyatukan peserta
didikdari berbagai usia dimana peserta didiklebih tua berperan sebagai tutor
dan yang lebih muda sebagai tute.
Tujuan
peer teaching pada jurnal ini adalah
:
a.
Mengurangi
tingkat putus sekolah.
b.
Menyebarkan
ide-ide para tutor
c.
Mengembangkan
keterampilan komunikatif dan kemampuan kerja tim
d.
Mendorong
belajar mandiri
e.
Mengembangkan
kemampuan belajar
f.
Mengembangkan
kemampuan pemecahan masalah tertentu
Manfaat peer teaching adalah :
a.
Membantu
peserta didikmenjadi pembelajaran mandiri dan termotivasi
b.
Meningkatkan
kemampuan belajar
2.
MATH PEER TUTORING FOR STUDENT WITH SPECIFIC LEARNING
DISABILITAS, penulis D. Miller, The University of Southern
Mississippi, Patricia M. Barbetta, Florida International University, Gregg E.
Drevno Talbot, County Public Schools Stacy, A. Martz and Timothy E. Heron, The
Ohio State University, 1994
Penulis menerangkan bahwa peer tutoring sangat tepat digunakan
pada peserta didikyang mengalami kemampuan belajar spesifik dalam meningkatkan
kemampuan dasar matematika mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah
bahkan ditempat kerja.
Manfaat peer tutoring dalam jurnal ini adalah mengembangkan kemampuan
matematika Peer tutoring terdiri dari :
a.
Classwide peer tutoring (CWPT), semua peserta didikbekerja secara berpasangan secara
bersamaan
b.
Cross-age tutoring, guru lebih tua dari tute dan berasal dari sekolah yang
sama
c.
One to one tutoring, peserta didikhanya membutuhkan satu peserta didiklainnya
sebagai tutor
d.
Small group intruction, setiap kelompok bergantian sebagai tutor untuk kelompok
lainnya
e.
Home based tutoring, orang tua berfungsi sebagai tutor
3.
COOPERATIVE LEARNING AND PEER TUTORING TO PROMOTE
STUDENT’S MATEMATICH EDUCATION, penulis associate professor, departement of matematich,
university of pavia, Italy
Pembelajaran
kooperatif dan peer tutoring saling
berketergantungan dalam keberhasilan individu.
Tujuan peer tutoring pada jurnal ini adalah :
a.
Membuat
murid bertanggung jawab dalam proses belajar mereka sendiri
b.
Mengembangkan
kompetensi siswa
c.
Memahami
kesulitan murid
Manfaat peer
tutoring adalah :
a.
Menghilangkan
ketegangan dan kegelisahan peserta didikdalam hubungannya dengan guru
b.
Memberi
kebebasan yang lebih besar dan spontanitas
4. PEER TUTORING AND SOCIAL
DYNAMIC IN HIGHER EDUCATION, penulis Janet W. Colvin, university of Utah, USA (2007)
Penelitian
ini berfokus pada peserta didikdan tutor pada peserta didikdan tutor dalam
berinteraksi dikelas pendidikan tinggi yang memnghabiskan banyak waktu dan
penuh dengan kesalahpahaman dan perebutan kekuasaan. Peer tutoring melibatkan orang-orang dari kelompok sosial yang sama
untuk mendidik satu sama lain ketika salah satu rekannya memiliki lebih banyak
keahlian atau pengetahuan. Stategi dari peer
tutoring adalah peserta didikmengajari peserta didiklainnya.
Goodlad (1998) menyarankan
untuk melibatkan peserta didikdalam tanggung jawab mereka sendiri dengan orang
lain untuk meningkatkan interaksi sosial dan mentransformasikan belajar dari
pribadi ke kegiatan sosial.
Tujuannya adalah :
a.
Mengembangkan
kemampuan belajar
b.
Mengevaluasi
hasil kerja
c.
Menyelesaikan
masalah-masalah tertentu
d.
Mendorong
belajar mandiri
e.
Mengurangi
angka putus sekolah
f.
Memberi
dukungan kepada siswa
Manfaatnya adalah :
a.
Memberikan
dukungan satu sama lain
b.
Membangun
kepercayaan dan hubungan yang baik
c.
Merefleksikan
pengalaman mereka sendiri
5. PEER TUTORING A STRATEGY TO PROMOTE ACADEMIC SUCCESS,
penulis Michelle Nguyen Duke University, Research Brief, 2013
Durham public school (DPS) mengembangkan peer tutoring sebagai strategi
pembelajaran yang sukses untuk menjangkau peserta didikberkinerja rendah
melalui program CATCH (Caring About the Concepts That Help) dengan cara melatih
mentor untuk sekolah menengah. Program CATCH dirancang untuk mencocokkan peserta
didikyang berkinerja tinggi dengan peserta didikyang sedang berjuang untuk sukses
akademis dibawah pengawasan guru. Hal ini merupakan pencegahan tingkat putus
sekolah di negeri ini yng menyebabkan tingginya tingkat pengangguran di AS.
Peer tutoring
merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan peserta didikdan ditemukan di
setiap mata pelajaran untuk meningkatkan prestasi akademik siswa. Peer tutoring mengacu pada metode
pembelajaran berpasangan yang menggunakan peserta didikberkinerja tinggi
sebagai guru dan berkinerja rendah sebagai tute dalam kelas lebar atau ditempat
umum di luar sekolah dibawah pengawasan guru.
Tujuannya adalah :
a.
Mengurangi
tingkat putus sekolah
b.
Meningkatkan
rasa tanggung jawab peserta didikterhadap hasil akademik yang diperoleh
c.
Meningkatkan
prestasi membaca peserta didiksetelah melakukan peer tutoring kelas membaca
d.
Memberikan
pembelajaran yang berbeda pada peserta didikpenyandang cacat dan non cacat
tanpa mengasingkannya melalui gaya belajar dan kecepatan berfikir siswa.
e.
Penurunan
perilaku menggangu dan peningkatan dalam interaksi sosial
f.
Meningkatkan
prestasi akademik siswa
Manfaatnya
adalah :
a.
Penurunan
perilaku menggangu dan peningkatan dalam interaksi sosial
b.
Meningkatkan
prestasi akademik siswa
B. SEJARAH PEER TEACHING DALAM DUNIA PENDIDIKAN.
Definisi peer tutoring adalah "sistem pengajaran di mana siswa saling
membantu dan belajar (sendiri)
dengan mengajar,".inti
dari definisi
ini adalah
kata “rekan”, yang berarti seseorang dengan
yang sama atau status hampir sama seperti orang
yang sedang diajari, dengan demikian, bukan instruktur profesional. Tutor teman sebaya telah memainkan peran
penting dalam pendidikan dan mungkin
telah tumbuh dalam beberapa wujud
sejak awal peradaban. Tetapi penggunaannya tercatat pertama kali dari sebuah proyek pembelajaran yang
diselenggarakan sistematis di
Dunia Barat yang terjadi setelah tahun1700-an.
Muncul dari mahalnya biaya sekolah di akhir abad 18 dan awal abad 19, tutor
teman sebaya menjadi cara yang
efektif untuk diberikan kepada orang yang kurang mampu (saat ini, sayangnya, hanya laki-laki) anak
yang menjadi focus dalam pendidikan.
Pendekatan sistematis peer tutoring pertama dilakukan oleh Andrew Bell,
yang merupakan pengawas dari Militer Pria Asylum
di Egmore, inggris. Ketika Bell mengambil
kendali di lembaga ini, Asylum dijalankan sebagai sekolah untuk anak-anak
yang ayahnya terbunuh selama masa perang. Bell mengubah asylum menjadi lebih dari sebuah
sekolah resmi.
Seperti banyak ide bagus lain, pemikiran Bell pada pelaksanaan tutor teman sebaya berasal dari sesuatu yang sangat aneh, secara tidak sengaja. Pernah menjadi
pengawas dan ia mengamati beberapa anak menggambar di pasir pantai suatu
hari, dan
kemudian memperkenalkan ide
menggunakan nampan pasir sebagai bahan penulisan yang murah di sekolahnya. Karena seluruh staf pengajarnya berpikir ini adalah tidak masuk akal, Bell mulai menggunakan
monitor - anak
untuk mengajar satu sama lain dengan
pasir - untuk
memastikan bahwa nampan pasir memang sedang
digunakan. Bell kemudian
menyadari bahwa penggunaan monitor
anak ini adalah penemuan jauh lebih signifikan dari pada mencoba untuk memotong biaya menggunakan praktik mengajar yang sangat tidak ortodoks dan pembelajaran dengan pasir.
Jadi, selama tahun 1791 dan 1792, Bell mendesain ulang sekolahnya sehingga setiap orang memiliki
peran khusus dengan tugas-tugas
yang terkait. Dia mengelompokkan siswa berdasarkan hasil pencapaian mereka. Jika seorang siswa
baik, dia dapat
dipromosikan ke kelas yang lebih
baik, jika tidak baik, dia bisa diturunkan ke
yang lebih rendah. Bell mengatur setiap kelas sedemikian rupa bahwa setengah dari siswa akan tampil sebagai tutor dan setengah lainnya akan menerima bantuan instruksional tutor . Juga, guru,
asisten pengajar dan mereka akan berkeliaran di seluruh sekolah membantu anak-anak, memantau dan menanyai siswa
untuk memastikan sistem
pengajaran bekerja.
Dengan sistem eksperimental ini , Bell beralasan
bahwa tutor "mengaktifkan murid untuk mengikuti pembelajaran kelas, di mana jika tidak, beberapa
dari mereka akan gagal, dan terdegradasi ke kelas yang lebih rendah, atau tetap tinggal dikelas tersebut, kehilangan kesempatan untuk
perbaikan karena tidak belajar salah satu pelajaran
sebagaimana seharusnya dipelajari.
Percobaan Bell diperkirakan
telah menjadi salah satu contoh
pertama dari pendekatan sistem
untuk mendidik orang. Memanfaatkan
percobaan tutorial Bell beberapa tahun ke
depan adalah seorang pria bernama Joseph Lancaster, yang
juga tertarik dengan gagasan
untuk menyediakan pendidikan bagi anak-anak yang tidak mampu,karena kelas sosial
keluarga mereka. Lancaster membuka sebuah sekolah di London, Inggris pada
tahun 1801 di mana dia
bertanggung jawab untuk sekitar 350 siswa. Ia menyadari bahwa dia tidak
dapat mengajarkan siswa dalam jumlah besar dan menjaga ketertiban pada saat yang sama,
ia memutuskan bahwa anak laki-laki yang memenuhi syarat untuk mengajar orang-orang yang tahu bahkan kurang, dan
memberikan anak-anak ini sarana untuk melakukannya.
Lancaster mengubah sedikit metode Bell dengan memberikan tutor nya bahan ajar
rinci untuk membantu mereka membantu orang lain dan diri mereka sendiri.
dirancang sangat terstruktur, bahan ajar terorganisir; ia juga datang dengan kunci
jawaban, dimana siswa dapat
digunakan untuk membantu siswa lain pada materi yang mereka
pelajari, sedangkan siswa yang
lebih tua memonitor mereka. Hal
ini dilakukan sementara Lancaster
mengajar sekelompok siswa yang berbeda. Jadi, dengan cara ini para siswa yang tidak memiliki waktu menganggur dan terlibat
dalam proses pembelajaran sekolah. Aspek lain yang unik
dari pendekatan ini adalah bahwa hal itu memungkinkan siswa yang tidak mungkin
bahkan telah akrab dengan materi pelajaran untuk benar-benar bertanggung jawab mengajarkannya. Mereka melakukan ini dengan cara yang memiliki kunci jawaban dan menonton siswa lain menyelesaikan masalah sebelum memberikan
siswa jawaban.
Pemain kunci lain dalam
pengenalan sistematis peer tutoring
adalah William Fowle. Fowle juga menggunakan pendekatan bersifat nasihat di
sekolahnya di Inggris pada akhir 1800-an. Ia melakukan studi pada
murid-muridnya dan mulai memberikan beberapa teori pendidikan untuk mendukung
praktik rekan tutorial. Fowle menyimpulkan bahwa anak-anak bisa, dalam beberapa
hal menjadi guru yang lebih baik daripada orang dewasa karena anak-anak bisa
tahu bahwa mereka berada dalam perahu yang sama. Idealnya, hal ini menyebabkan
mereka menjadi lebih perhatian dan menghormati perasaan masing-masing, daripada
merasa panik karena harus bekerja dengan orang dewasa yang mereka mungkin
merasa menghakimi mereka dan pekerjaan mereka setiap langkah demi
langkahnya.
Pendidik Amerika yang berbagi
kurangnya dukungan keuangan yang diperlukan untuk mengangkat guru dalam jumlah
besar mendengar tentang ide-ide Bell, Lancaster dan Fowle. Mengambil isyarat
dari orang-orang ini dari tanah Inggris mereka, instruktur Amerika sering
mengandalkan siswa tertentu untuk mengajar orang lain sebelum sistem sekolah
itu diberlakukan. Ini adalah kelahiran dari peer tutoring di Amerika. Dan
sementara itu sangat mungkin bahwa bimbingan dalam format yang sangat berbeda
yang terjadi di pendidikan tinggi (dan tempat lain), penting untuk dicatat
bahwa ide-ide orang-orang ini yang sangat berpengaruh sebelum penggunaan guru
profesional menjadi lebih luas di US.
C. STRATEGI METODE PEMBELAJARAN PEER TEACHING
Tantangan yang dihadapi oleh para
penggerak dunia pendidikan saat ini semakin banyak. salah satunya adalah
perubahan atmosfer dunia pendidikan yang sebagian besar dipengaruhi oleh adanya
perkembangan teknologi yang akan terus terjadi. Perlu kita ketahui bahwa selain
memberi dampak yang baik bagi peningkatan kualitas pembelajaran ternyata
perkembangan teknologi ini juga memberikan efek samping yang kurang baik bagi
dunia pendidikan terutama jika menyangkut tentang penyalahgunaan yang terjadi
di lingkungan peserta didik. Karenanya dalam menyampaikan pelajaran dan
menjawab tantangan perkembangan teknologi yang terjadi, seorang tenaga pendidik
haruslah aktif dalam mengikuti perkembangan tersebut dan memikirkan strategi
pembelajaran yang baik untuk para peserta didik yang dimilikinya. Strategi
pembelajaran merupakan cara atau metode yang digunakan untuk melakukan
pengajaran yang baik dan efektif yang diantaranya terbagi menjadi:
1.
Strategi pembelajaran secara langsung,
Dalam hal ini para guru merupakan pemeran utama dalam penyampaian materi kepada para peserta didik yang dengannya para
guru harus aktif memberikan materi secara langsung. Untuk strategi pembelajaran
seperti ini bersifat deduktif
2.
Strategi pembelajaran tidak langsung.
Dalam strategi ini lebih dipusatkan pada para peserta didikyakni guru hanya
berperan sebagai fasilitator yang bertugas mengelola lingkungan kondusif saat
pembelajaran berlangsung.
3.
Strategi pembelajaran interaktif.
Strategi ini menekankan komunikasi yang terjalin antara peserta didik dengan peserta
didik yang lainnya maupun peserta didik dengan guru melalui kegiatan diskusi
dan sharing untuk memecahkan sebuah permasalahan, kelebihan dari strategi ini
adalah mengajak peserta didik untuk lebih aktif dan peka terhadap setiap
permasalahan yang dibahas dalam pembelajaran tersebut
4.
Strategi pembelajaran empirik, ini
merupakan sebuah strategi pembelajaran yang lebih menekankan aktivitas yang
dilakukan oleh para peserta didik selama masa pembelajaran.
5. Strategi
pembelajaran mandiri yang dengannya bertujuan untuk meningkatkan potensi
masing-masing peserta didik serta mengakomodir inisiatif yang mereka miliki
untuk mengembangkan dirinya sendiri.
Dalam
hal ini. Metode pembelajaran Peer
Teaching merupakan strategi pembelajaran interaktif dengan sistem pengajaran tutor sebaya
yang akan membantu peserta didikyang kurang
mampu atau kurang
cepat menerima pelajaran dari gurunya. kegiatan tutor sebaya bagi peserta didikmerupakan
kegiatan yang kaya akan pengalaman yang sebenarnya merupakan
kebutuhan peserta didikitu sendiri. tutor maupun yang ditutori sama-sama diuntungkan, bagi tutor akan mendapat pengalaman, sedang yang ditutori akan lebih kreatif dalam menerima pelajaran.
Tampaknya lebih mudah bagi peserta didikuntuk mengeluarkan
pendapat atau pikiran dan kesulitan kepada temannya sendiri
ketimbang kepada guru,
peserta didiklebih sungkan dan malu. Hal tersebut dimungkinkan karena diantara peserta
didiktelah terbentuk bahasa mereka sendiri, tingkah laku, dan juga
pertanyaan perasaaan yang dapat diterima oleh semua siswa
Adapun langkah-langkah metode pembelajaran Peer Teaching yang penulis kutip dari
beberapa jurnal, diantaranya :
1. Jurnal dengan judul STUDENT PEER TEACHING STRATEGY, penulis Tan Tee Hwa Bangkok:
UNESCO Bangkok, 2009
Dalam jurnal ini, Tan
Tee Hwa menyajikan pembelajaran Peer
Teaching dalam beberapa tahapan
sebagai berikut :
Mengatur
bahan ajar yang akan diberikan kepada peserta didik
Artinya, seorang guru yang baik harus mempersiapkan segala sesuatu yang
diperlukan untuk melaksanakan proses pembelajaran secara matang.
Mengidentifikasi
topik untuk pelajaran yang akan diberikan berdasarkan kebutuhan peserta didikpada
tahun ini.
Pada step yang kedua ini, Tan Tee
Hwa membuat metode Peer Teaching diakhir-akhir
semester untuk mengulang kembali pembelajaran. Kebutuhan yang dimaksud iyalah
para peserta didikyang masih kurang jelas atau kurang memahami suatu pokok
bahasan, maka pembahasan tersebut diangkat kembali untuk dibahas secara bersama
Guru
membagi para peserta didikmenjadi beberapa kelompok
Setiap
kelompok memilih satu topik untuk
didiskusikan disertai lembar kegiatan.
Guru
bekerja dengan kelompok untuk
memastikan bahwa beberapa keterampilan dasar dipelajari: seperti teknik
bertanya dan menjawab. Komunikasi antar kelompok dan mengisi LKS
Pembelajaran harus memiliki ICT - teks, gambar, applet, audio,
video, dll
50 persen dinilai dari proses
pembelajaran dan lembar kegiatan serta bagaimana mereka meningkatkan pembelajaran
dan 50 persen dinilai dari
cara mereka mempresentasikan hasil diskusi
Mempersiapkan
waktu untuk masing-masing kelompok mempresentasikannya didepan kelas
Guru mengatur kelompok-kelompok peserta
didikuntuk melatih mereka
mengajar di kelas.
Siapkan lembar komentar untuk memungkinkan
peserta didikuntuk memberikan kritik yang
membangun kepada kelompok
2.
Jurnal dengan judul MATH PEER
TUTORING FOR STUDENTS WITH SPECIFIC LEARNING DISABILITIES, penulis April D. MillerThe University of
Southern Mississippi,
Patricia M. BarbettaFlorida International University , Gregg E. DrevnoTalbot County Public SchoolsStacy . A. Martz and Timothy E. Heron The Ohio State University , 1994
Patricia M. BarbettaFlorida International University , Gregg E. DrevnoTalbot County Public SchoolsStacy . A. Martz and Timothy E. Heron The Ohio State University , 1994
Dalam jurnal ini, mereka menyajikan pembelajaran Peer Teaching dalam beberapa tahapan sebagai berikut :
a)
Membuat persiapan
Dalam step pertama, membuat persiapan sebelum pembelajaran dengan metode
pembelajaran Peer Teaching
Format
bimbingan
guru harus mempertimbangkan karakteristik siswa, sumber daya yang tersedia, dan tujuan dari pembelajaran
untuk memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran.
Memilih
rekan
Peserta didikdapat dipasangkan oleh guru, baik secara acak, berdasarkan tingkat keahlian, atau dengan pertimbangan
khusus bagi peserta didikdengan perilaku
atau berprestasi, peserta didikbergiliran
mempresentasikan, masing-masing menghabiskan 5 sampai 10 menit sebagai
tutor.
Melatih
tutor
Melatih tutor dilakukan agar tidak terjadi kesalahan
dalam mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.
Mengatur
suasana pembelajaran
Mengatur suasana belajar memerlukan peran guru dalam penjadwalan. Bimbingan dapat diimplementasikan sesedikit seminggu sekali atau sesering setiap hari.
Namun, minimal 2-3
hari seminggu dianjurkan agar tutor dan tutees
dapat menggunakan perilaku terlatih. Bimbingan biasanya
berlangsung 30 menit, dengan 20 menit disediakan untuk pembelajaran dan 10 menit untuk tes, ulasan, dan
transisi
b)
Menjalankan program
Pre-test
Latihan
Tes
c)
Pengayaan dan ekstensi
Praktek Tambahan memberikan pengayaan dan
perluasan kegiatan yang berkaitan dengan topic pembelajaran. Misalnya, jika peserta didikberlatih fakta-fakta matematika,
mereka mungkin menggunakan masalah kata atau aplikasi
selama latihan generalisasi.
Formula, waktu, uang, pecahan, pengukuran, konversi,
estimasi, dan banyak
keterampilan lainnya dapat
dimasukkan dalam program ekstensi. Guru diingatkan
untuk mengarahkan di mana fakta, aplikasi, atau konsep dapat dimasukkan
atau diperpanjang. Prosedur ini berfungsi sebagai review yang baik dan memfasilitasi generalisasi
dengan situasi baru.
3.
Jurnal dengan judul COOPERATIVE LEARNING AND PEER
TUTORING TO PROMOTE STUDENTS’ MATHEMATICS EDUCATION, penulis : Angela Pesci ,Associate Professor , Department of Mathematics, University of Pavia, Italy
Dalam jurnal ini, pesci menyajikan metode Peer Teaching ini dengan strategi sebagai berikut
Guru
mempersiapkan bahan ajar , rencana pembelajaran serta LKS dengan tingkat
kesulitan bertahap.
Guru
membentuk kelompok-kelompok kecil yang diberisi 3 atau 4 peserta didikdengan
perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar dan hubungan interpersonal.
Guru
mengatur waktu untuk melaksanakan metode ini.
Selama kegiatan, guru harus selalu tersedia sebagai ahli untuk
menyelesaikan kemungkinan masalah yang ditemukan tutor dan sebagai pengawas kegiatan
Guru
memberikan formulir untuk memantau
kesulitan dan kemampuan tutee pada tiap pertemuan kepada masing-masing tutor
Tutor
memberi laporan dari hasil diskusi bersama tutee.
Dari ketiga jurnal tersebut, para penulisnya membuat langkah-langkah
pembelajaran metode Peer Teaching
dengan kombinasi yang berbeda sesuai dengan apa yang dibutuhkan peserta didikpada
penelitian mereka.
Berikut adalah persamaan dan perbedaan step-step yang dilaksanakan pada
ketiga jurnal tersebut :
|
Nama
Jurnal
|
Persamaan
|
Perbedaan
|
|
1.
STUDENT
PEERTEACHING STRATEGY, penulis Tan Tee Hwa
|
·
Mempersiapkan bahan ajar sebelum
memulai proses pembelajaran
·
Membentuk kelompok kecil
beranggotakan 3-4 orang
·
Masing-masing kelompok diberi
masalah yang berbeda-beda
·
Guru menentukan tutor dari tiap
kelompok
·
Guru menjadi fasilitator untuk
meluruskan pemahaman tutor tentang topic yang diberikan, agar penjelasan
tutor ke tutee tidak menyimpang
·
Memberikan waktu untuk berdiskusi
dan mempresentasi
·
Tutee memberikan kritik dan saran
|
·
Melaksanakan metode Peer teaching ini diakhir semester
untuk mereview kembali pelajaran yang mendapat hasil yang kurang diharapkan.
·
Melaksanakan pembelajaran Peer Teaching dengan ICT untuk
memudahkan tutee memahami topic yang disajikan
|
|
2.
Math Peer Tutoring
for Students with Specific Learning Disabilities, penulis April D. Miller,
Patricia M. Barbetta, Gregg E. DrevnoTalbot . A. Martz and Timothy E. Heron |
·
Membuat format bimbingan untuk
menentukan tutor dengan mempertimbangkan sumber daya, tingkat keahlian dan
karakteristiknya
·
Menyisakan 10 menit terakhir
untuk tes dan ulasan mengenai pemahaman peserta didiktentang topic yang telah
dibahas
·
Melaksanakan Metode Peer Teaching 2-3 hri seminggu agar
tutor dan tutee bias menjalin komunikasi yang baik
·
Memberikan pengayaan dan ekstensi
Tambahan yang berkaitan dengan topic
|
|
|
3. Cooperative Learning and Peer
Tutoring to Promote Students Mathematics Education,
penulis : Angela Pesci
|
·
Melaksanakan Metode peer Teaching untuk mengetahui
kesulitan-kesulitan yang dialami dalam pembelajaran
·
Memberikan formulir kepada
masing-masing tutor untuk menilai para tutee dikelompoknya masing , tentang
aktivitas, semangat dan kesulitan dalam berdiskusi yang nantinya formulir
tersebut menjadi pegangan untuk guru dalam menentukan strategi berikutnya
|
Pada intinya, strategi metode pembelajaran Peer Teaching dapat dilaksanakan dengan
menambahkan beberapa step yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Untuk itu, perlunya kemampuan analisis guru untuk mengontrol perkembangan peserta
didikdan apa yang dibutuhkan peserta didikuntuk memperoleh hasil belajar yang
baik.
D. KEKURANGAN DAN KELEBIHAN METODE
PEMBELAJARAN PEER TEACHING
1.
Cooperative Learning And Peer
Tutoring To Promote Students’ Mathematics Education
Angela Pesci Associate
Professor, Department of Mathematics, University of Pavia, Italy angela.pesci@unipv.it
Dalam jurnal ini, dijelaskan beberapa keunggulan
dan kelemahan pembelajaran peer teaching:
KEUNGGULAN :
Melatih keterampilan kelompok dalam berfikir kreatiF
Meningkatkan rasa tanggung jawab yang tinggi
Membangun semangat peserta didikdalam belajar
KEKURANGAN :
Memerlukan waktu yang lama
Harus memiliki peserta didikyang banyak
Memerlukan perhatian guru yang cukup ekstra ketat.
2.
Peer Tutoring And Social Dynamics
In Higher Education
Janet W. Colvin, University
of Utah, USA
Dalam jurnal ini, dijelaskan beberapa keunggulan dan kelemahan
pembelajaran peer teaching:
BAGI SISWA
a.
Meningkatkan kepercayaan diri
b.
Pengembangan ilmu sosial dan prilaku
disiplin serta bertangung jawab
c.
Meningkatkan keterampilan berbicara
d.
Meningkatkan prestasi akademik
BAGI TUTOR
a.
Mendorong berfikir tingkat tinggi
b.
Meningkatkan motivasi untuk belajar
c.
Meningkatkan pengetahuan umum
BAGI LEMBAGA /
PROGRAM PENDIDIKAN
a.
Meningkatkan pembelajaran yang lebih
dalam materi yang ada pada gilirannya memungkinkan koordinator untuk mengatur.
3.
The Effectiveness Of Peer Tutoring
In Further And Higher Education: A Typology And Review Of The Literature
K.J. TOPPING Centre for Paired
Learning, Psychology Department, University of Dundee, Dundee DDI 4HN, Scotland.
Dalam jurnal ini, dijelaskan
beberapa keunggulan dan kelemahan pembelajaran peer teaching:
KEUNGGULAN
a.
Mahapeserta didikenggan untuk bertanya
pada kelas reguler dapat diminalisir.
b.
Meningkatkan pemahaman mahapeserta didikakan
materi materi yang ada,
c.
Mendorong peserta didikyang berperan
sebagai pengajar akan meningkatkan kualitas kelompok.
KEKURANGAN
a.
Tidak seluruhnya guru benar-benar memahami cara masing
– masing peserta didikbekerja kelompok
b.
Perlu dimodivikasi agar sesuai diterapkan pada peserta
didik
c.
Didominasikan oleh peserta didikyang suka berbicara (
ingin menonjolkan diri )
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas dapat
disimpulkan pembelajaran peer teching
merupakan pembelajaran yang tujuannya agar peserta didikdapat memahapi materi
ajar dengan baik dan dapat mentransfer apa yang dipahami kepada temanya.
Pemahaman yang ingin dikembangkan disini adalah pemahaman tehadap materi
pembelajaran secara spesifik, selain itu pembelajaran peer teaching
meningkatkan keterampilan kumunikasi dan kerja tim. Dimana dalam komunikasi dan
kerja sama yang baik akan memudahkan peserta didikmemecahkan permasalahan yang
dihadapi.
Peer teaching adalah metode atau teknik menyampaikan materi ajar
melalui rekan atau bantuan teman sendiri, mulai dari pembelajaran materi sampai
juga penilaian dilakukan dari dan oleh siswa dalam kelompok itu sendiri ( self
- assesment and peer assisment) Sedangkan untuk nilai akhir adalah pengabungan
antara penilaian oleh guru dn teman sebaya.Proses belajar tidak harus
berasal dari guru, siswa bisa saling mengajar dengan siswa yang lainnya,
Sehingga tujuan kebermaknaan pembelajaran Matematika dapat tercapai. Berkaitan
dengan mata pelajaran matematika tersebut diperlukan metode Peer Teaching yang akan mendorong siswa
untuk mengatur dan menguraikan apa yang telah mereka pelajari disamping untuk
menjelaskan materi kepada yang lainnya. Selain itu, peer
Teaching dapat mempertinggi ikatan sosial pada diri siswa dalam kegiatan
belajar. Teknik ini juga merupakan cara efektif untuk meningkatkan pencapaian
akademik bagi tutor dan tutee, bermanfaat untuk pemecahan masalah, dan juga
efektif dalam membantu mengembangkan kreatifitas, eksperimentasi, kemampuan
memecahkan masalah, dan mempelajari konsep yang mendalam.
B. SARAN
1. Guru
a.
Hendaknya guru dapat menyajikan
pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran kooperatif peer teaching yang menggunakan media slide dengan baik sehingga
dapat meningkatkan perhatian siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
b.
Hendaknya guru mampu mengembangkan dan
mengatasi hambatan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif peer teaching dengan menggunakan media
slide.
c.
Hendaknya guru dapat mengevaluasi hasil
yang diperoleh dan mengambil keputusan yang tepat dengan penerapan pembelajaran
kooperatif peer teaching dengan menggunakan media slide.
2. Siswa
a.
Hendaknya siswa dapat memberikan respon
yang baik terhadap guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif peer teaching yang menggunakan media
slide dengan baik sehingga dapat meningkatkan perhatian siswa terhadap materi
yang disampaikan oleh guru.
b.
Hendaknya siswa yang mempunyai kemampuan
lebih dari siswa lain sebaiknya mengkomunikasikan dan menularkan pengetahuan
dan pemahaman yang dimiliki oleh siswa lain.
3. Sekolah
a.
Hendaknya sekolah dapat menerapkan
pembelajaran kooperatif peer teaching dengan
menggunakan media slide untuk materi pokok lain.
b.
Hendaknya sekolah dapat menyediakan
sarana pembelajaran yang bermanfaat untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap
materi yang disampaikan oleh guru.
DAFTAR PUSTAKA
Google. (2014, 13 september). cooperative
learning and peer tutoring to promote student’s
matematich education, Diperoleh 13 september 2014, dari math.unipa.it/~grim/21.../Pesci486490.pdf
Google. (2014, 13 september). math
peer tutoring for student with specific learning disabilitas, Diperoleh
16 september 2014, dari www.cldinternational.org/.../mathseries/miller2.pdf
Google.
( 2014, 13 september). student peer teaching strategy,Diperoleh 13 september
2014, dari http://unesdoc.unesco.org/images/0018/001833/183309e.pdf
google. (2014, 16 september).a case study of peer
tutoring program in higher education. diperoleh 16 september 2014, dari www.aabri.com/manuscripts/11757.pdf
Google. (2014, 16 september). peer
tutoring a strategy to promote academic success, Diperoleh
16 september 2014, dari
Google.
(2014, 16 september ). peer tutoring and social dynamic in higher
education,Diperoleh 16 september 2014, dari
http://www.columbia.edu/~sf2434/mentoring%20literature/Peer%20tutoring%20and%20social%20dynamics.pdf
Google.
(2014, 16 september). The Effectiveness Of Peer Tutoring In Further And Higher
Education: A Typology And Review Of The Literature, diperoleh 16 september
2014, dari http://www.fau.edu/CLASS/CRLA/Level_Three/The_effectiveness_of_peer_tutoring_in_further_and_higher_education-a_typology_and_review_of_the_literature.pdf
Google.
(2014, 30 september ). The History of Peer Tutoring ,Diperoleh 30
september 2014, dari
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
SATUAN PENDIDIKAN :
SMK NEGERI 2 BESITANG
KELAS/ SEMESTER : X/ 1
MATA PELAJARAN : MATEMATIKA - WAJIB
TOPIK :
EKSPONEN DAN LOGARITMA
WAKTU : 2 X 45 MENIT ( 1 x Pertemuan )
A.
TUJUAN
PEMBELAJARAN
Dengan
kegiatan diskusi dan pembelajaran dalam pembelajaran eksponen dan logaritma ini
diharapkan siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan
bertanggungjawab dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi
saran dan kritik, serta dapat menjelaskan pengertian logaritma
B.
KOMPETENSI
DASAR
1.1. Menunjukkan
sikap senang, aktif, percaya diri, rasa ingin tahu, sikap kritis, bekerja sama
dan jujur dalam menyelesaikan berbagai permasalahan nyata
1.2. Memiliki
sikap tanggungjawab terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif
3.1
Memilih dan menerapkan
aturan eksponen
dan logaritma sesuai
dengan karakteristik
permasalahan yang akan diselesaikan dan memeriksa kebenaran
langkah-langkahnya
4.1
Menyajikan
masalah nyata menggunakan
operasi aljabar berupa eksponen dan
logaritma serta
menyelesaikannya
menggunakan sifat- sifat
dan aturan yang
telah terbukti kebenarannya.
C.
INDIKATOR
PENCAPAIAN KOMPETENSI
1. Terlibat
aktif dalam pembelajaran logaritma.
2. Bekerjasama
dalam kegiatan kelompok.
3. Tanggungjawab
terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
4. Menjelaskan
kembali pengertian eksponen.
5. Logaritma
sebagai invers dari eksponen .
D. MATERI PEMBELAJARAN
|
Jika
|
E.
METODE
PEMBELAJARAN
Pendekatan
pembelajaran adalah pendekatan saintifik (scientifik).
Pembelajaran kooperatif (cooperative
learning) menggunakan kelompok diskusi yang berbasis masalah (problem based learning)
F.
MEDIA
PEMBELAJARAN
ü Papan
Tulis
ü Alat
Tulis
ü Penghapus
ü Alat
Peraga
G.
SUMBER
BELAJAR
ü Buku
Guru Matematika Kelas X Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
tahun 2013
ü Buku
Siswa Matematika Kelas X Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia tahun 2013
ü Lembar
penilaian
H.
LANGKAH-LANGKAH
PEMBELAJARAN
|
Kegiatan
|
Deskripsi
Kegiatan
|
Alokasi
Waktu
|
|
Pendahuluan
|
1.
Guru memberikan gambaran tentang pentingnya
memahami logaritma dan memberikan gambaran tentang aplikasi logaritma dalam
kehidupan sehari-hari.
2.
Sebagai apersepsi untuk mendorong rasa ingin tahu dan berpikir kritis,
siswa diajak memecahkan masalah eksponen dari
3.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai yaitu logaritma
|
10 menit
|
|
Inti
|
1.
Guru menjelaskan kepada siswa tentang definisi
logaritma (
2.
Dengan tanya jawab, membahas beberapa soal
berkaitan dengan definisi logaritma
3.
Guru membagi siswa ke dalam 3 kelompok.
4.
Tiap kelompok mendapat seperangkat
kartu sebanyak 20 lembar buatan dari guru.
5.
Guru meminta masing-masing anggota
kelompok untuk saling bekerjasama untuk memasangkan dengan benar 20 lembar
kartu tersebut ke dalam 10 pasangan kartu yang senilai selama 10 menit
6.
Guru memantau dengan cara berkeliling untuk
menilai keaktifan, kerjasama dan tanggung jawab siswa
7.
Kelompok yang pasangan benarnya paling banyak
adalah pemenang.
|
70 Menit
|
|
Penutup
|
1.
Kelompok yang kalah wajib mendefinisikan ulang
tentang logaritma
2.
Guru memberikan tugas PR berkaitan definisi
logaritma.
3.
Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan
pesan untuk tetap belajar.
|
10 Menit
|
I.
PENILAIAN
1. Teknik
Penilaian: pengamatan, permainan, tugas rumah
2. Prosedur
Penilaian:
|
No
|
Aspek yang dinilai
|
Teknik Penilaian
|
Waktu Penilaian
|
|
1
|
Sikap
a.
Terlibat aktif dalam pembelajaran logaritma.
b.
Bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
c.
Tanggungjawab terhadap proses pemecahan masalah
yang berbeda dan kreatif.
|
Pengamatan
|
Selama
pembelajaran dan saat permainan
|
|
2
|
Pengetahuan
a.
Menjelaskan kembali pengertian eksponen.
b.
Menyatakan kembali hubungan eksponen dengan
logaritma sebagai fungsi saling invers
|
Pengamatan
dan tugas rumah
|
Penyelesaian
tugas rumah
|
J.
INSTRUMEN
PENILAIAN HASIL BELAJAR
Tugas Rumah (PR)
Tuliskan bentuk logaritma dari:
1.
2.
3.
4.
5.
Kunci Jawaban:
1.
nilai 1
2.
nilai
1
3.
nilai
1
4.
nilai
1
5.
nilai
1
Skor
maksimum 5
LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN
SIKAP
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : X/1
Tahun Pelajaran : 2013/2014
Waktu Pengamatan : Selama Proses Pembelajaran
Indikator sikap
aktif dalam pembelajaran eksponen dan logaritma
1. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran
2. Baik jika
menunjukkan sudah ada usaha ambil
bagian dalam pembelajaran tetapi belum ajeg/konsisten
3. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian
dalam menyelesaikan tugas kelompok
secara terus menerus dan ajeg/konsisten
Indikator sikap
bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
1. Kurang baik jika sama sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam
kegiatan kelompok.
2. Baik jika
menunjukkan sudah ada usaha untuk bekerjasama
dalam kegiatan kelompok tetapi masih
belum ajeg/konsisten.
3. Sangat baik jika menunjukkan adanya
usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten.
Indikator sikap tanggungjawab
terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
1.
Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap tanggungjawab terhadap proses
pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
2.
Baik jika
menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap tanggungjawab terhadap proses
pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten.
3.
Sangat
baik jika menunjukkan
sudah
ada usaha untuk bersikap tanggungjawab terhadap proses pemecahan masalah yang
berbeda dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten.
Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.
|
No
|
Nama Siswa
|
Sikap
|
||||||||
|
Aktif
|
Bekerjasama
|
Tanggungjawab
|
||||||||
|
|
|
KB
|
B
|
SB
|
KB
|
B
|
SB
|
KB
|
B
|
SB
|
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan:
KB : Kurang baik
B : Baik
SB : Sangat baik
...............,........Juli
2014
Kepala SMK Negeri 2 Besitang Guru
Mata Pelajaran
(
)
(
)
HASIL DISKUSI TANYA JAWAB
1.
Yang di bahas dalam jurnal tersebut peer tutoring atau peer teaching !
2.
Bagaimana cara guru menyiapkan tutor
tersebut !
3.
Kendala bagi guru dalam menyiapkan tutor
tersebut !
4.
Apa maksud dari guru lebih tua dari tute
(cross age tutoring) ?
5.
Contoh dari pelaksanaan peer tutoring secara formal atau
informal !
6.
Apakah ada kriteria khusus pembagian
kelompok dalam peer tutoring ?
7.
Bagaimana kriteria siswa dapat dijadikan
sebagai tutor !
8.
Apakah peran guru dalam peer tutoring !
9.
Apakah kendala dalam peer tutoring ?
10.
Bagaimana cara mengatasi siswa pasif !
11.
Apakah maksud dari memberikan
pembelajaran yang berbeda tapi tidak mengasingkannya pada peer
tutoring !
12.
Bagaimana penilaian dalam peer tutoring ?
JAWAB
:
1. Yang
dibahas pada jurnal ini adalah peer
teaching, dimana peer teaching
dan peer tutoring itu sama tetapi peer tutoring merupakan bagian dari peer
teaching. Dimana pengertian Peer teaching
adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk oleh guru sebagai
pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas. Dan peer tutoring adalah mengajari teman
sejawat. Peer teaching banyak
pembagiannya, salah satunya adalah peer
tutoring.
2. Cara
guru menyiapkan tutor Dalam peer tutoring,tutor
yang di unjuk adalah siswa yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang lebih
sehingga dapat mengajari yang lainnya. Selain itu tutor juga dapat disiapkan
dengan cara memberi bimbingan.
3. Kendalanya
adalah pada saat guru menunjuk siswa sebagai tutor, siswa tersebut tidak
mempunyai keberanian serta guru memerlukan waktu yang cukup lama dalam
pelaksanaanya, dimana guru memerlukan perhatian yang cukup ekstra ketat
4. Maksud
dari guru lebih tua dari tute atau disebut juga cross age tutoring adalah siswa
yang ditunjuk menjadi tute adalah yang tingkatan kelasnya lebih tinggi dan
berasal dari sekolah yang sama. Mis, siswa kelas VIII berperan sebagai tutor
dan kelas VII sebagai tute.
5. Contoh
pelaksanaan peer tutoring secara
formal adalah disekolah ( mengajari teman satu kelas atau sekolah), dan
informal dilaksanakan diluar sekolah ( mis : les rumahan,orang tua, bimbingan
belajar dll)
6. Dalam
pembagian kelompok tidak ada kriteria khusus, jumlahnya boleh berapa saja dan
siswa yang memiliki pengetahuan yang lebih berperan sebagai tutornya karena
strategi peer tutoring adalah siswa
mengajari siswa lainnya.
7. Kriteria
siswa yang ditunjuk sebagai tutor adalah siswa yang dianggap guru lebih pintar dan memiliki pengetahuan atau penguasaan
yang lebih dalam pelajaran tersebut sehingga siswa tersebut dapat mengajari
siswa lainnya.
8. Dalam
peer tutoring guru berperan sebagai
pengawas dan fasilitator. disini tugas guru berkurang, guru tidak lagi secara
langsung menjelaskan pelajaran karena telah digantikan oleh tutor dan guru juga
dapat membantu tutor jika memiliki kendala dalam menjelaskan atau membuat siswa
lain memahami pelajaran yang diterangkan oleh tutor tersebut.
9. Kendala
dalam peer tutoring adalah memiliki
waktu yang banyak dalam pelaksanaanya, guru harus memberikan perhatian yang
ekstra dalam pelaksanaanya, dan dapat memberikan motivasi bagi siswa agar aktif
dalam kelompoknya.
10. Cara
mengatasi siswa pasif adalah dengan cara memberi pujian serta memotivasi anak
supaya siswa aktif. Disini siswa akan lebih nyaman dalam bertanya tentang yang
tidak diketahui atau kurang dimengerti kepada tutor karena sebaya sehingga
pelajaran lebih mudah dimengerti. Pada guru mungkin siswa masih canggung dan
takut sehingga siswa tidak memahami pelajaran yang diterangkan oleh guru. Tutor
juga dapat memberi motivasi kepada tute dalam pembelajaran
11. Maksud
dari memberi pembelajran yang berbeda tapi tidak mengasingkannya adalah pada
siswa penyandang cacat dan non cacat tidak mungkin diberikan pelajaran yang
sama karena kemampuan mereka berbeda. Setiap siswa berhak memperoleh
pengetahuan tanpa membedakan apakah dia cacat ataupun tidak. Bagi penyandang
cacat dapat melakukan pembelajaran disekolah yang sesuai seperti SLB.
12. Penilaian
peer tutoring dapat dilakukan dengan
cara pre test, praktek, tes.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar